![]() |
| Gambar Ini Hanya Pemanis |
Minggu, 19 Februari 2023
Sabtu, 18 Februari 2023
Kampung Tambera Desa Doka Kaka Kecamatan Loli - Sumba
Terletak di desa Doka Kaka kecamatan Loli merupakan kampung Ina- Ama atau kampung adat utama suku loli sekaligus pusat pelaksanaan ritual Wulla Poddu, sebuah ritual suci penganut Marapu (kepercayaan tradisional penduduk asli Sumba Barat) yang dilaksanakan selama satu bulan penuh.
Rato di kampung adat tambera bernama Yewa L. Kodi. Saat ini kampung Tambera dihuni oleh 12 kabisu(sub-klan) yang mendiami 20 buah rumah adat dengan nama dan fungsi tersendiri.
Di dalam kampung adat Tambera terdapat beberapa benda-benda sakral yang kemudian di tetapkan sebagai benda cagar budaya. Berikut ini adalah benda cagar budaya yang berada di situs Tambera.
MACAM MACAM BENDA KERAMAT
1. Doddu/ ubbu ; Tambur suci yang hanya dibunyikan setahun sekali yaitu sepanjang pelaksanaan Wulla Poddu(Bulan Suci) yang berlangsung antara bulan Oktober sampe i dengan November
2. Lede Kodaka ; Gong suci yang terbuat dari serbuk besi. Gong ini hanya boleh dibunyikan pada bulan Wulla Poddu.
3. Paleti Lango-Pedenga Rasi ; sepasang gong suci yang dibunyikan saat perayaan ritual-ritual pemujaan yang berlangsung di dalam rumah.
4. Soro Bonnu- Karawang Jawa ; sepasang gong suci yang dibunyikan saat kemarau panjang dengan tujuan meminta datangnya hujan.
5. Kaleku Boru Podda/ kawuku; Simpul tali terbuat dari kulit pohon yang dibentuk menyerupai bola. Dipercaya sebagai symbol perkembangan manusia dan bahan pangan.
6. Kaweda; wadah kecil terbuat dari anyaman rotan atau pandan.
7. Dari dewa; untaian muti terbuat dari batuan alam sebagai pelengkap busana adat rato Rumata Tambera dan Rumata Geila Koko yang digunakan dengan cara dililitkan di sekeliling rahang.
8. Rewo/ kau; Sejumput rambut yang digunakan oleh rato rumata.
9. Nobbu Wara; Tombak besi yang terbuat dari serbuk besi.
10. Nobbu Tei; tombak suci yang digunakan sebagai kelengkapan busana penari laki-lak yang tampil saat Wulla Poddu.
11. Nobbu Tadaila Goro; Bahan Dasar tombak ini sama dengan nobbu Wara dan NOBBU Tei namun ujung-ujung nya. (*)
Jumat, 17 Februari 2023
Sejarah Pemerintahan dan Perkembangan Islam di Kedang-Lembata
![]() |
| Gambar: Desa Kalikur diambil dari atas |
A. Kondisi Awal Mula Kedang sebelum Masa Kolonial Belanda
Kedang berasal dari kata "Edang", adalah nama sebuah wilayah "Auq Edang" yang sekarang dikenal dengan "Tanah Kedang".....Auq = Tanah, Edang dari kata Edan = Lampau atau dahulu kala, jadiAuq Edang berarti Tanah Dahulu Kala atau Tanah Masa Lampau. Auq edang /Tanah Kedang adalah nama sebuah wilayah pemerintahan yang membawahi 44 buah Temukang atau kampung sekarang yang berada di sekeliling gunung kedang atau Uyelewun, Konkritnya. Pada masa dahulu sebelum pemerintahan kolonial belanda, pemerintahan Auq Edang/Tanah Kedang sudah ada dan asal mula manusia bermukim di puncak Uyelewun dari awal manusia Edang (Kedang) pertama secara turun temurun sampai pada seorang raja pertama bernama TAMIDA.
selanjutnya dari raja TAMIDA menurunkan anak secara turun temurun hingga
LIA→LOYO→BUYA
Kemudian BUYA bertemu dengan seorang perempuan yang belum dikenalnya, yang berasal dari Sina Pueng Matang Jawa ( Tanah jawa ) akhirnya menikahlah keduanya. Tempat pertemuan keduanya dibalikulik (balauring) sekarang menjadi ibukota kecamatan omesuri. Buya adalah orang jawa, sebutan Buya berarti Bapa danOme lidah orang kedang tapi, sebenarnya adalah Umi yang artinya Ibu. Jadi Buya dan Ome selalu ditambah Suri yang artinya Pengelana atau Pengembara, karena tidak diketahui asal muasal kedua orang tersebut. Dari perkawinan Buyasuri dan Omesuri menurunkan beberapa keturunan secara turun temurun hingga sampai pada ROMAN yang menurunkan anak RIBU dan RAHA. Kedua putera mahkota itu selanjutnya berkaitan dengan penyebaran Manusia dalam rangka memenuhi Temukung/Perkampungan di seputar Gunung Uyelewun dan sekitarnya, maka terjadilah pembagian wilayah Au Edang (Tanah Kedang) menjadi 2 bagian, Wilayah GOA OTEWELA BAJA (di pedalaman), RAJA OLE WATA (Raja di pesisir pantai.
GOA OTE WELA (Raja di pedalaman) di perintahhi oleh RIBU ROMAN dan RAJA OLE WATA (Raja pesisir) diperintahi oleh RAHA ROMAN. Oleh karena pembagian kekuasaan raja auq Edang/Tanah Kedang pada dua saudara kakak beradik dan pada akhirnya terjadilah pembaiatan adik Raja ole wata, RAHA ROMAN menjadi RAJA EDANG, Raja Tanah Kedang karena Raja RAHA ROMAN punya Sumber Daya yang lebih baik/Tinggi........................................................................................................
Sebagai tanda untuk mengekalkan PEMBAIATAN tersebut dilakukan secara seremonial adat dengan memadukan darah kakak beradik yang penuh dengan nilai kesakhralannya dan kesaktiannya.......................................................................................
ISI BAIAT :
1. RIBU RATU (sebutan asli kedang)
WITING LUBA DEI SOBA’ ARABAU DUKI DEI
Rakyat mngikuti perintah satu orang nimong/Penggembala dalam hal ini adalah RAJA
2. Semboyan persatuan dan kesatuan dari pedalaman dan pesisir/pantai adalah SATU dengan semboyan kedang
“WITING PULU WADE” UDE’, MATENG PULUH WOU’ UDE”
Artinya : Sepuluh ekor kambing diikat dengan satu Tali
Mayat sepuluh Dikubur dalam satu liang lahat
3. “WELA BIRANG WATA LOGE, WATA OWANG WELA PARO”
Artinya : Pakaiannya Pedalaman Robek,, Pesisir berikan,
Pedalaman Lapar pesisir Berikan Makanan.
Tiga butir baiat ini merupakan kalimat “NUKUNG” (Tamsil). Ketiga Baiat sumpah serapah ini sangat terbukti bila terjadi pelanggaran dan hal ini kontan dan sangat dihormati hingga saat ini, Orang boleh percaya atau tidak tapi FAKTA telah membuktikan, kemudian penulis hanya meneruskan sejarah bagi turunan dari Raja RAHA ROMAN dan sejarah GOA OTE WELA sekarang berada di Aliuroba ( Desa benihading ) tersendiri dengan sejarahnya. RAJA RAHA ROMAN kemudian menurunkan anak – anaknya secara turun temurun hingga pada ERUNG LAWE. Dari Lawe selanjutnya menurunkan lima orang anak yaitu :
DATO LAWE
SARABITI LAWE
SARUANG LAWE (X ) Mati muda
TAPING LAWE
ERUNG LAWE
Yang sekarang mendiami LEU ALIUR (Kalikur) pada masa dahulu hingga sekarang dengan suku LEU TUANG hingga saat ini.........................................................
Di Leu Aliur ( Desa Kalikur ) terdapat 6 suku yang pada masa lampau menjadi 6 temukung(kampung) yang masing – masing kepala kampung dijabat oleh Ketua – ketua suku.
Kampung/Temukung di kalikur terdiri dari :
Kampung / Suku Leutuang
Kampung / Suku Leuwerung
Kampung / Suku Dapubeang
Kampung / Suku Honiero
Kampung / Suku Marisa
Kampung / Suku Leuto’ang
Dari kelima anak dari RAJA LAWE ERUNG. Anak kedua yakni SARABITI LAWE menjadi RAJA AUQ EDANG( tanah kedang) karena sumber dayanya agak lebih baik dari kakak beradik tersebut diatas.Beliau SARABITI LAWE Lebih cakap dan belajar ilamu agama islam Tempat belajarnya adalah Ujung Pandang (Sekarang Makassar) dan Buton, Bau-bau.-
Pada masa masuknya pemerintahan Kolonial belanda pada tahun 1596, Belanda masuk ke indonesia, di Pelabuhan BANTEN (Tanah jawa) pemerintah pada saat itu di LEU/AU EDANG(Tanah Air Kedang) dengan LEU ALIUR sebagai pusat ibukota dibawah pemerintahan RAJA SARABITI LAWE.
Selanjutnya Pada tahun 1602 Belanda dengan VOC Melancarkan ekspansinya dengan politik “ DEVIDE ET IMPERA ” atau politik memecah belah dan menguasai.
Dengan dilancarkan politik Devide et Impera maka terjadilah fitnah yang dilancarkan oleh VOC kepada RAJA ADONARA bahwa di Au Edang atau tanah Kedang hidup seorang Raja yang bernama SARABITI LAWE yang meliputi 44 Temukang/Kampung. Yang berdiri sendiri dengan tidak memihak kepada Timur ataupun Barat. Dengan segala strategi yang licik dari VOC maka Raja ADONARA mulai melakukan perluasan wilayah kekuasaan dengan segala strateginya dengan mengundang RAJA SARABITI LAWE ke Adonara lalu mempersuntingkan saudari perempuannya untuk di kawinkan kepada raja SARABITI LAWE yang bernama “ MEME BOTA “ dengan demikian maka RAJA KEDANG di bawah Raja SARABITI LAWE secara otoomatis menjadi bagian dari pemerintahan RAJA ADONARA dengan sebutan KAPITAN( RIANG BARA ) sebagai bukti pengakuan Auq edang menjadi bagian dari Raja ADONARA maka lahirlah kalimat sakti perpaduan dua wilayah antar kalikur dan Adonara yang ditandai dengan memadukan darah dan diminum bersama.
Kalimat sakti tersebut adalah : “LEU ALIUR AUQ ADONARA”
Kesaktian kalimat tersebut telah terbukti dimana-mana oleh orang kedang. Kalimat ini boleh dipercaya atau tidak tetapi fakta telah membuktikan. LEU ALIUR AUQ ADONARA dengan “NUBA NARA” nya adalah kalimat yang penuh dengan kesaktiannya adalah kalimat yang merupakan simbol INDUK,Yang dalam istilah kedang “NETE” atau HULU( GAGANG) sedangkan isinya, Sebagai penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa mencantumkan isi dari pada istilah di atas, karena diharuskan untuk memenuhi kriteria khusus yang harus di penuhi bagi yang mau mempelajarinya...................................................................................................................
B. Auq Edang atau Tanah Kedang pada Masa Pemerintah Kolonial Belanda
Raja SARABITI LAWE ( Penguasa Auq Edang dan Tanah kedang) yang sering dipanggil(RIANG BARA) kawin 2 (dua) orang istri dengan menurunkan beberapa orang anak diantaranya yang menjadi putra mahkota adalah :
MUSA SARABITI, dan BAPA LAWE SARABITI
Dengan dua putera mahkota ini pemerintah kolonial Belanda mulai memainkan peran fitnah kepada RAJA ADONARA bahwa Auq Edang (TANAH KEDANG) terr jadi perebutan tahta oleh dua saudara yaitu :
BAPA LAWE SARABITI dengan MUSA SARABITI, dan akhirnya BAPA LAWE SARABITI di asingkan ke KUPANG(timor). Dan pada akhirnya SARABITI LAWE sering dipanggil dengan nama BAPA KUPANG.Kedua saudara tersebut yakni Musa Sarabiti dan Bapa Lawe sarabiti belajar sekolah di Makassar, Buton, dan Bau – Bau. Setelah Bapa Lawe Sarabiti kembali dari Kupang terjadilah perdamaian antara kedua saudara kakak beradik untuk saling akui mengakui Saudara MUSA SARABITI menjadi “RIANG BARA”. Sebagai bukti bahwa adanya pengakuan tersebut dilakukan pertukaran Bineng(Saudara Perempuan) yakni saudari perempuan dari MUSA SARABITI yaitu : SITI MUSA dan BANG MUSA menjadi saudari perempuan BAPA LAWE SARAABITI yakni EMA BESE’ dan EMA PAO menajdi saudari MUSA SARABITI hingga saat ini.
Selanjutnya RIANG BARA MUSA SARABITI menurunkan beberapa orang anak yang menggantikan RIANG SARABITI adalah PUTERA MAHKOTA yang bernama “SARABITI MUSA” menjadii Riang Bara Auq Edang/tanah Kedang, beliau sering di panggil dengan sapaan “BAPA RIANG” yang tempat pemakamannya di abadikan diatas batu besar di BOTE LOLOQ yang sering dissebut masyarakat dengan SAGU WOWO artinya MULUT SAGU atau pelabuhan ADONARA. Yang hingga saat ini menjadi monumen peninggalan masa lampau.
C. Auq edang atau Tanah Kedang pada Masa Kemerdekaan indonesia
Pada tahun 1945 Auq Edang atau Tanah Kedang diperintahi oleh “RIANG BARA” yang membawahi 44 Temukang/kampung yang berada di seputar uyelewun atau gunung kedang. Termasuk 6 buah kampung di kalikur. Setelah RIANG BARA MUSA SARABITI meniggalakan roda pemerintahan, Pemerintahan beralih pada 2(Dua) orang putera mahkota yaitu :
MUSA atau M. MUSA atau dipanggil dengan sapaan BAPA MUSA, selanjutnya menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah, dan kemudian dipanggil dengan sapaan H.MUSA.
BAPA DIAH yang kemuadian berkawin dengan dengan keturunan RAJA ADONARA dan bermukim di SAGU hingga saat ini.
Setelah itu yang menjadi RIANG BARA wilayah Kedang dibawah Pemerintahan “RIANG MUSA”. Setelah Kemerdekaan wilayah RAJA ADONARA dibentuk dengan sistem Pemerintah baru dengan sebutan “SWAPRAJA ADONARA” yang membawahi beberapa KAPITAN yang diperintahi oleh seorang Kepala HAMENTE yang khususnya di wilayah kedang menjadi HAMENTE KEDANG.
Pada tahun 1960 terjadilah perubahan sisitem pemerintahan menurut Undang – Undang atau peraturan kepala HAMENTE diubah menjadi KOORDINATOR DESA – DESA. Setelah RIANG BARA MUSA BIN BAPA RIANG, Pemerintah beralih apada Dinasti berikutnya yaitu Putra Mahkotanya yakni : MAS ABDUL SALAM SARABITI sebagai kepala HAMENTE Kedang, juga sebagai koordinator Desa-desa Kedang yang berkedudukan di BALAURING Ibukota kecamatan Omesuri sekarang............................
Pada tahun 1961, Kemudian struktur pemerintah Koordes dirubah menjadi Pemerintah Kecamatan , sehingga Kampung – Kampung pun diubah menjadi “Pembentukan desa gaya Baru”. Maka terjadilah Pembentukan Kecamatan Lomblen Timur dengan Ibukotanya BALAURING. Selanjutnya khususnya Kalikur yang terdiri dari enam Kepala Kampung yang digabung menjadi : “DESA GAYA BARU KALIKUR” . Dan Pada saat itu terjadilah Penggabungan Desa - Desa Seputar Gunung Uyelewun yang Dulunya terdiri dari kepala – kepala Kampung..................................................................
Pada tahun 1967 Pemerintah Lomblem Timur dimekarkan menjadi dua Kecamatan yaitu :
Kecamatan Buyasuri
Kecamatan omesuri
Yang dahulunya adalah wilayah Administrasi RAJA SARABITI LAWE
Kecamatan Buyasuri Ibukotanya Weiriang
Kecamatan omesuri ibukotanya Balauring
Hingga saat ini.........
D. SEJARAH PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI FLOTIM, ALOR DAN DI KEDANG KALIKUR
Agama islam masuk di wilayah flores timurdan alor lebih khusus di Auq edang/Tanah Kedang melalui 2 jalur yaitu :
EXPEDISI DARI TIMUR
EXPEDISI DARI BARAT
Pada tahun 1500 Agama Islam masuk di indonesia yang dibawa oleh pedagang dari Arab, Gujarat, dan Persia melalui bandar – bandar niaga yang Ramai. Pada umumnya Ekspedisi penyebarannya melalui perdagangan dan kawin mawin. Tahun 1700, khusus di Tanah Kedang (Auq Edang) yang diperintahi oleh Raja Sarabiti Lawe dengan pusat pemerintahan di LEU ALIUR(KALIKUR) sudah memeluk agama Islam, primitif awal mula masuknya agama islam di LEU ALIUR(Kalikur) berasal dari kerajaan/kesultanan Banten. Para da’i penyiar agama islam datang berniaga/berdagang dan singgah di pelabuhan/bandar Leu Aliur. Bandar/Pelabuhan Leu Aliur(Kalikur) pada masa lampau sangat terkenal karena merupakan bandar/pelabuhan transito bagi Expedisi penyebaran dari timur ke barat ataupun dari barat ke timur. Karena itu pelabuhan kalikur diberi nama dengan PUITIS KEDANG :
“LEU LIKUR LAMA KOMA TANAH WAHENG LAMA BERA”
Artinya :
NEGERI YANG AMAN DAMAI TEMPAT BERTEDUH BAGI PELAYAR YANG HENDAK KE TIMUR atau KE BARAT
Sekaligus tempat persiapan pembekalan (Logistik) dalam pelayaran dan penyebrangan.
Bandar/Pelabuhan Kalikur sekarang masih ada yang sering disebut oleh orang kedang dengan sebutan “WATA RIANG” dengan rincian arti (Wata : Pantai,Riang : Besar). Artinya Pantai Besar dan tempat itu menjadi tempat yang sakral dan terus dipergunakan oleh pemerintah dan masyarakat kalikur dalam Urusan Pelepasan Ekspedisi kalikur ke luar Daerah termasuk pelepasan dan pemberangkatan jemaah haji pada masa lampau.............!!!
Pada Tahun 1800, datang lagi para penyebar dan penyiar agama islam dari kesultanan Banten yang bernama“SYEKH IBU ABUYA” sebagai pimpinann ekspedisi masuk di Kalikur dan tinggal serta menetap bersama Bapa Lawe Sarabiti melalui bandar/pelabuhan Kalikur sambil berdagang atau berniaga sekaligus penyiaran dan penyebaran agama islam di kalikur. Dan Syekh Ibu Abuya berasal dari Keturunan kesultanan Banten dan juga penyiar agama islam di wilayah kedang khususnya di kalikur, oleh karena tugas sebagai seorang penyiar agama islam maka beliau tinggal dan menetap di kalikur untuk waktu yang cukup lama sampai bertahun. Sebagai bukti bahwa beliau pernah tinggal di Kalikur, maka rumah yang dianiaya orang kalikur dan orang kedang pada umumnya menyebutnya dengan sebutan Huna Banten karena lidah orang kedang menyebutnya dengan sebutan Huna banten : Huna = Rumah, Banten=bantal. Rumah tersebut ditempati oleh orang Banten, dan hingga saat ini rumah tersebut masih bernama Huna bantal dan keberadaanya kini masih ada di desa kalikur. Karena itulah perlu digaris bawahi bahwa datangnya/tibanya Syekh Ibu Abuya, Raja Kedang Musa sarabiti, dan bapak Lawe sarabiti sudah memeluk agama islam dari bapaknya (Mendiang Sarabiti Lawe). Sebagaimana telah penulis katakan bahwa penyebaran dan penyiaran agama islam baik Timur maupun Barat, melalui bandar-bandar niaga yang ramai dan termasykur.
Ekspedisi Jalur Timur dan Barat
Ekspedisi jalur barat tersebut melalui Kerajaan Islam di tanah jawa dan juga Sulawesi. Sedangkan Ekspedisi jalur Timur melalui Kesultanan Ternate, Tidore, saparua, Bacaa dan Obi. Ekspedisi barat dalam penyebaran dan penyiarannya melalui 5 bandar-bandar yang ramai pada masa itu yakni :
Wilayah Flores Timur terdiri dari :
LOHAYONG → Ola Lau Hayong
LAMAKERA → Dato Lau Kera
LAMAHALA → Kia Rae Salang
TERONG → Dato Watampao
LEBALA → Bala Lama Rongan
5(lima) bandar besar itulah kemudian dikenal dengan SOLOR WATANG LEMA artinya Solor 5 Pantai. Solor adalah nama Daerah yang masuknya agama islam di wilayah Flores Timur. Watang adalah bandar, pantai atau pelabuhan. Jadi Solor watang lema berarti 5 (lima) pantai.................................................................................................
Expedisi Timur
Melalui jalur Bandar – bandar Niaga yang ramai Khususnya di kepulauwan Alor melalui 5 Bandar besar yaitu :
PANDAI→Liu rai Bolitonda
BARANUSA
BLAGAR→Salasang baku laha
ALOR BESAR
KUI MORU→Gamaley Ata Malay
5 (lima) bandar tersebut kemudian terkenal dengan nama / sebutan GALI AU WATANG LEMA BerartiALOR LIMA PANTAI . Kalau begitu Kedang / Kalikur termasuk yang mana ? apa Solor Watang Lemaatau Gali Au Watang Lema ? jawabannya : Kedang / Kalikur Tersendiri karena Bandar Kalikur sebagai mana penulis sudah utarakan bahwa kalikur sebagai tempat Transit untuk jalur penyebrangan baik dari Timur maupun Barat yang sering di beri nama dengan “ LEULIKUR LAMA KOMA TANAH WAHENG LAMA BERA” Sebagai bukti peninggalan tempat singga pada masa Lampau di Kalikur masih ada sering di sebut “Wata Riang”, Jadi Kalikur Agama Islam masuk Tersendiri Baik melalui jalur Timur maupun barat.
Untuk memperdalam ilmu Agama Islam Baik di timur maupun di Barat Orang Kalikur Meengirimkan BENARASI untuk belajar Ilmu Agama Islam sebagai berikut:
GENERASI I (pertama)
Musa Sarabiti belajar di Makassar dan Buton Bau – bau
Bapa Lawe Sarabiti juga di Makassar dan Buton Bau – bau
Jawa (Imam Jawa) belajar di Batipu, Padang Sumatra Barat dan di Tanah Jawa(sehingga sering disebut (Imam Jawa)
GENERASI II (kedua)
Jaudin Laba belajar di Seram saparua
H. Musa belajar di Makassar Buton bau – bau
Bapa Diyah Belajar di tanah Jawa juga Buton bau – bau.
Butu (Jou) belajar di Tarnate Seram, Saparua.
Raha Dato belajar di seram saparua (yang semboyan kebesarannya sering beliau nyatakan dalam orasinya “SERANG GORANG YO”).
Ana Koda Haba belajar di Buton bau-bau karena jadi juragan maka dijuluki ANAKODA HABA.
Raja Mamboli dari Dapubeang juga belajar di serang Saparua.
M. Abd Wahid belajar di Buton, Bau-bau dan makassar.
Kemudian datang para ustadz dari Padang Sumatera barat mengajarkan ilmu agama islam di kalikur/Kedang sampai beberapa saat baru kembali, tepatnya di Batipu dan padang pariaman Sumatera Barat. Catatan yang diperoleh penulis dari para leluhur bahwa agama islam masuk di Kedang/kalikur pada tahun 1700-an.
Kemudian menyusuli SYEKH IBU ABUYA dari keturunannya datanglah H.MUSLIM BIN ABD SYEKH ALWAN masuk di Kalikur melalui Bonerate tinggal di Kalikur tepatnya di Huna banten kemudian mengawini Hj. St. Aisyah anak dari H. Misbah cucu dari Bapa lawe sarabiti juga Mengajarkan ilmu agama islam dan menetap di kalikur dengan menurunkan beberapa anak kemudian kembali ke Mekkah hingga meninggal di Mekkah. Hingga saat ini anaknya H. St. Fatimah masih menetap di Mekkah...
Yang menarik dan istimewa Pemerintah Negeri Kedang/Kalikur pada masa lampau sering disebut dengan “RAJA AGAMA” artinya : Raja yang mengatur Ritual Agama islam, dengan fungsi :
Mengatur Ritual Agama terutama mengenai shalat Jum’atan dan juga shalat sunnat 2 Hari Raya Besar.
Penetapan awal puasa ramadhan dan penetapan Hari Raya idhul Fitri(1 Syawal)
Uniknya adalah kegiatan ritual Agama pada butir pertama diatas baru akan dimulai apabila telah hadirnya “RAJA AGAMA”
E. PENYEBARAN DAN PENYIARAN AGAMA ISLAM DI WILAYAH KEDANG DI SEPUTAR GUNUNG UYELEWUN
Pada masa awala mula masuknya agama islam di Leu Aliur maka agama islam mulai mengembangkan supaya ke wilayah perkampungan di seputar gunung Kedang/Uyelewun mulailah dilakukan penyiaran dan pengajaran Ilmu Agama Islam oleh para jou-jou ngaji sekaligus mendirikan mesjid dan langgar/Surau din seputar gunung Uyelewun melalui perkampungan dengan melalui proses kawin mawin di wilayah perkampungan sekaligus menjadi imam untuk mengajarkan Ilmu Agama islam. Dengan demikian dalam waktu sekejap islam masuk dan diterima menjadi agama yang dipeluknya hingga saat ini. tidaklah berkelebihan penulis menyebutkan nama-nama penyebar agama islam diseputar gunung uyelewun sebagai berikut :
Jou Imam Raha, Jou H. Abd. Wahid, Jou Imam Abd. Jamil, H. Abd. Wahid, Jou Asmolu, Jou Imam Hasan, Songko Lodo, dan Jou Soge, Jou Syuaib Soge, Untuk penyebaran Wilayah Omesuri Sekarang, Sedangkan untuk wilayah buyasuri adalah Jou Butu, Jou Imam kalu, Jou Moi H. Abd Jamil, Jou H. Muh. Arsyad, Jou Mado Dore, Jou Imam Pala, Jou luma Jawa, Jou imam Abd. Latif(Imang La Ila), Jou Imam bapa Tua taba.
F. KESIMPULAN
1.Masuknya Agama islam di wilayah kedang diperkirakan pada tahun 1700-an
2.Islam masuk di Auq Edang(Tanah Kedang) secara langsung, tidak melalui Ekspedisi Timur maupun Ekspedisi barat karena BANDAR KALIKUR merupakan Bandar Transito yang hingga saat ini masih dikenal sebagai bukti sejarah “WATA RIANG”. Wata : Pantai/Pelabuhan, Riang : Besar jadi Wata riang : Pantai/Pelabuhan besar.
3.Bukti peniggalan masa lampau, masih ada dan tetap dilestarikan hingga saat ini.
G. PENUTUP
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segalah petunjuk dan hidayahnya sehingga sempat penulis melakukan pembukuan Sejarah Asal Mula “ PEMERINTAHAN AUQ EDANG (TANAH KEDANG) DAN SEJARAH MASUKNYA AGAMA ISLAM DI AUQ EDANG (TANAH KEDANG).
Reverensi dalam upaya penyusunan ini saya peroleh dari para pendahulu/pemimpin Kedang(Kalikur) yang berasal dari LELUHUR KETUA_KETUA SUKU dalam Desa kalikur/Leu Aliur teristimewa :
Alm. Mado Kiri (Leu Tuang)
Burong Pitang (Leu Werung)
Tulung Sika (Honiero)
H. Ali Buka (Marisa)
Kopa Toang (Dapubeang)
Mado Dore (Leu Toang)
Terus pada generasi berikut :
Abdullah Samina (Leu Tuang)
H. Agusalim Mado (Leu tuang)
Abd. Latif mado (Leu Toang)
Muh. Amin Mamboli (Dapubeang)
Hasan Rahmat (Leu Tuang)
Marjuki Beang (Dapu beang)
Terakhir dari pemerintahan Desa Kalikur yang digabung dari 6 (enam) Kepala kampung menjadi DESA GAYA BARU KALIKUR dengan kepala Desa perdananya adalah : Bapa Tuang Adonara. Kepada Alm. Mendiang Pendahulu tersebut diatas telah memberikan informasi dan inspirasi kepada penulis untuk dijadikan bahan “RUJUKAN” dalam penyusunannya terhadap buku ini.
Semoga semuanya menjadi “AMALIYAH INFORMATIKA” yang sangat berharga bagi generasi Penerus sehingga jangan sampai hanya indah khabar dari rupa yang tidak terkesan apa-apa.
*** Tidak lupa saran dan kritikan serta masukan dari teman dan rekan dalam upaya penyempurnaan terhadap sejarah ini, penulis mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya.
*** Penulis Menyadari Karya penulisan ini memang sungguh jauh dari harapan yang idealnya.
*** Jika tulisan ini benar adalah sebuah kebenaran yang datangnya dari Allah SWT. Jika salah atau khilaf dan keliru datangnya hanya dari penulis semata sebagai manusia biasa.
AMIIIEN YAA RABBAL ALAMIIEN
Muhammad Arrasy El Kasim
(Sumber : Dato,Damra.2011.Selayang Pandang Sejarah, Pemerintahan Awal Mula dan Perkembangan Islam di Kedang.Kedang:Arras Press).
Sumber: Website; kalikurdesa.id
Kamis, 16 Februari 2023
Tugas dan Fungsi Staff Operator SID (Sistem Informasi Desa)
![]() |
| Gambar: Istimewah |
- Melakukan pengumpulan data desa di tingkat desa;
- Melakukan penginputan data baru dan atau memperbaharui data yang sudah ada;
- Melakukan rekapan dan melaporkan tanggapan, pertanyaan, masukan, pengaduan dan segala bentuk komunikasi yang ada di SID kepada Kepala Desa; dan tugas lainya yang terkait dengan pengelolaan SID. Peran olah data : entry, edit data dasar. Peran olah informasi : tulis, edit artikel website.
- Dalam melaksanakan tugasnya, pengelola SID bertanggung jawab kepada Kepala Desa dengan Muatan SID sekurang-kurangnya terdiri dari: Data desa, antara lain: data potensi desa; data kemiskinan; data pendidikan; data kesehatan; data kependudukan; data pembangunan desa; data pembangunan kawasan perdesaan; data keuangan; data aset desa; data ekonomi; data sosial budaya; data pemerintahan desa; data infrastruktur desa;
Informasi yang dapat diakses oleh masyarakat desa dan semua pemangku kepentingan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan;l ayanan administrasi desa;
Muatan SID sebagaimana dimaksud dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.
Sumber : Perbup SID, Perbup No.17 2021
Selasa, 14 Februari 2023
KERAJAAN BIMA | KERAJAAN ISLAM DI SUMBAWA |
Setelah Kerajaan Bima terus menerus melakukan perlawanan terhadap masuknya politik dan monopoli perdagangan VOC akhirnya juga tunduk di bawah kekuasaannya. Ketika VOC mau memperbaharui perjanjiannya dengan Bima pada 1668 ditolak oleh Raja Bima, Tureli Nggampo; ketika Tambora merampas kapal VOC pada 1675 maka RajaTambora, Kalongkong dan para pembesarnya diharuskan menyerahkan keris-keris pusakanya kepada Holsteijn.
Pada 1691, ketika permaisuri Kerajaan Dompu terbunuh, Raja Kerajaan Bimadi tangkap dan diasingkan ke Makassar sampai meninggal dunia di dalam penjara. Di antara kerajaan-kerajaan di Lombok, Sumbawa, Bima, dan kerajaan-kerajaan lainnya sepanjang abadke-18 masih menunjukkan pemberontakan dan peperangan, karena pihak VOC senantiasa memaksakan kehendaknya dan mencampuri pemerintahan kerajaan-kerajaan, bahkan menangkapi dan mengasingkan raja-raja yang melawan.
Sebenarnya jika kita membicarakan sejarah Kerajaan Bima abad ke-19 dapat diperkaya oleh gambaran rinci dalam Syair Kerajaan Bima yang menurut telaah filologi Cambert Loir diperkirakan sangat mungkin syair tersebut dikarang sebelum 1833 M, sebelum Raja Bicara Abdul Nabi meletakkan jabatannya dan diganti oleh putranya.
Pendek kata syair itu dikarang oleh Khatib Lukman barangkali pada 1830 M. Syair itu ditulis dalam huruf Jawi dengan bahasa Melayu. Dalam syair itu diceritakan empat peristiwa yang terjadi di Bima pada pertengahan abadke-19, yaitu, letusan Gunung Tambora, wafat dan pemakaman Sultan Abdul Hamid pada Mei1819, serangan bajak laut, penobatan Sultan Ismail pada 26 November 1819, Sultan Abdul Hamiddan Wazir Abdul Nabi, pelayaran Sultan Abdul Hamid ke Makassar pada 1792, kontrak Bima pada 26 Mei 1792, pelantikan Raja Bicara Abdul Nabi, serta kedatangan Sultan Ismail, Reinwardt, dan H. Zollinger yang mengunjungi Sumbawa dan menemui Sultan.
Letak Kerajaan Bima
Kabupaten Bima merupakan salah satu Daerah Otonom di Provinsi Nusa Tenggara Barat, terletak di ujung timur dari Pulau Sumbawa bersebelahan dengan Kota Bima (pecahan dari Kota Bima). Secara geografis Kabupaten Bima berada pada posisi 117°40” -119°10” Bujur Timur dan 70°30” Lintang Selatan.
Sejarah Singkat Bima merupakan pusat pemerintahan atau kerajaan Islam yang menonjol di Nusa Tenggara dengan nama rajanya yang pertama masuk Islam ialah Ruma Ta Ma Bata Wada yang bergelar Sultan Bima I atau Sultan Abdul Kahir. Sejak itu pula terjalin hubungan erat antara Kerajaan Bima dengan Kerajaan Gowa, lebih-lebih sejak perjuangan Sultan Hasanuddin kandas akibat perjanjian Bongaya.
![]() |
| Gambar RAJA BIMA Bertemu dengan Presiden Ir. Soekarno |
Setelah Kerajaan Bima terus menerus melakukan perlawanan terhadap masuknya politik dan monopoli perdagangan VOC akhirnya juga tunduk di bawah kekuasaannya. Ketika VOC mau memperbaharui perjanjiannya dengan Bima pada 1668 ditolak oleh Raja Bima, Tureli Nggampo;ketika Tambora merampas kapal VOC pada 1675 maka Raja Tambora, Kalongkong dan para pembesarnya diharuskan menyerahkan keris-keris pusakanya kepada Holsteijn.
Silsilah Raja
1. ± 1620—1640 Abdul Kahir
2. 1640 — 1682 I Ambela Abi’l Khair Sirajuddin
3. 1682 — 1687 Nuruddin Abu Bakar All Syah
4. 1687 — 1696 Jamaluddin Ali Syah
5. 1696 — 1731 Hasanuddin Muhammad Syah
6. 1731 — 1748 Alauddin Muhammad Syah
7. 1748 — 1751 Kamalat Syah,
8. 1751 — 1773 Abdul Kadim Muhammad Syah,
9. 1773 — 1817 Abdul Hamid Muhammad Syah
10. 1817 — 1854 Ismail Muhammad Syah,
11. 1854 — 1868 Abdullah,
12. 1868 — 1881 Abdul Aziz,
13. 1881 — 1915 Ibrahim,
14. 1915 — 1951 Muhamad Salahuddin
Kehidupan Budaya
- Beragam tradisi dan budaya terlahir dan masih dipertahankan rakyatnya. Salah satu yang hingga kini masih kekal bahkan terwarisi adalah budaya rimpu, sebuah identitas kemusliman yang hingga kini nyaris kehilangan makna. Rimpu merupakan busana adat harian tradisional yang berkembang pada masa kesultanan, sebagai identitas bagi wanita muslim di Bima.Rimpu mulai populer sejak berdirinya Negara Islam di Bima pada 15 Rabiul awal 1050 H bertepatan dengan 5 Juli 1640.
- Masuknya rimpu ke Bima amat kental dengan masuknya Islam ke Kabupaten bermotokan Maja Labo Dahu ini. Pedagang Islam yang datang ke Bima terutama wanita Arab menjadi ispirasi kuat bagi wanita Bima untuk mengidentikkan pakaian mereka dengan menggunakan rimpu.
- Sebuah masjid tertua di Bima hingga kini masih bediri di Kelurahan Melayu Kecamatan Asakota, Kota Bima. Hanya saja, kondisi cagar budaya itu tak terurus dan hanya berfungsi sebagai Tempat Pendidikan Qur’an (TPQ) oleh warga setempat. Bahkan sejumlah benda bernilai sejarah tinggi raib. Pantauan Suara NTB, mesjid yang seluruh bangunannya terbuat dari kayu dan beratap seng itu masih berdiri kokoh diantara rumah penduduk. Konon masjid itu dibangun dua utusan Sultan Goa Sulawesi Selatan untuk mensyi’arkan Agama Islam di Bima.
Kehidupan Sosial
- Masyarakat Bima merupakan campuran dari berbagai suku bangsa. Suku asli yang mendiami Bima adalah orang Donggo. Mereka mendiami daerah dataran tinggi. Kepercayaan asli orang Donggo adalah animisme, yang mereka sebut dengan marafuyu. Dalam perkembangannya, kepercayaan ini terdesak oleh agama kristen dan islam.
- Orang Donggo yang menjadi suku asli Bima ini hidup dari bercocok tanam dengan sistem peladangan yang berpindah-pindah. Oleh karena itu rumah mereka juga berpindah-pindah (tidak tetap).
- Suku lain yang mendiami Bima adalah orang Dou Mbojo (migran dari daerah Makasar).Kehidupan Ekonomi..
- Pada saat itu kerajaan Bima sangat berkembnag pesat disegi pertanian maupun perternakandan perikanan.Dibidang perternakan Kerajaan Biima tidak mau kalah dengan kerajaanlain, Raja Indra Zamrud juga mengembangkan bidang perternakan yaitu kuda, kerbau dan sapi.Dalam kitab Negarakertagama, Kerajaan Bima disebut sudah memiliki pelabuhan besar pada 1356.
Faktor Kemunduran
Kesultanan Bima berakhir ketika Indonesia berhasil meraih Kemerdekaan pada tahun 1945. Saat itu, Sultan Muhammad Salahuddin, raja terakhir Bima, lebih memilih untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Indonesia. Siti Maryam, salah seorang Putri Sultan, menyerahkan Bangunan Kerajaan kepada pemerintahan dan kini di jadikan Museum. Di antara peninggalan yang masih bisa di lihat adalah Mahkota, Pedang dan Furnitur. (*)
Selasa, 07 Februari 2023
Alokasi Kursi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Kabupaten Lembata NTT
- Jumlah Daerah Pemilihan : 4
- Jumlah Alokasi Kursi : 25
- Dapil Lembata 1 : Kecamatan Nubatukan 7 Kursi
- Dapil Lembata 2 : Kecamatan Ile Ape, Kecamatan Lebatukan dan Kecamatan Ile Ape Timur dengan 5 Kursi
- Dapil Lembata 3 : Kecamatan Omesuri dan Kecamatan Buyasuri dengan 8 Kursi
- Dapil Lembata 4 : Kecamatan Nagawutung, Kecamatan Atadei dan Kecamatan Wulandoni dengan 5 Kursi
Sabtu, 04 Februari 2023
Jika pernah berhubungan badan sebelum nikah, apakah setelah nikah rasanya akan hambar (biasa saja)?
![]() |
| Gambar Selotip |
Tidak hanya kehilangan daya rekat, tapi mungkin ada sisa permukaan sebelumnya ikut menempel di selotip itu. Semakin banyak selotip itu ditempelkan, sisa permukaan yang menempel di selotip itu juga semakin banyak.
Rabu, 01 Februari 2023
Situs Sejarah Benteng Fort Overburg
![]() |
| Gambar Benteng Fort Overburg |
Selasa, 31 Januari 2023
Proposal Permohonan Bantuan Modal Kelompok Tenun Ikat Di APBDesa
| Gambar: Istimewah |
1. Cover atau sampul
PROPOSAL
PERMOHONAN BANTUAN MODAL
O
L
E
H
UKM TENUN IKAT
Jln. Trans Watodulang – Desa Tuakonen
KECAMATAN WATODULANG
KABUPATEN WUKAKLEIN
2. Surat Permohonan
| Nomor | : | 01/UKM/VIII/2022 | Tuakonen, 01 September 2022 | ||||
| Lampiran | : |
|
| ||||
| Perihal | : | Permohonan Bantuan Dana |
| ||||
|
|
|
|
| ||||
|
|
| Kepada: | |||||
|
|
| Yth. Bapak Kepala Desa Tuakonen | |||||
|
|
| di- | |||||
|
|
| Tempat | |||||
|
|
|
| |||||
|
|
|
| |||||
|
| Dengan Hormat, | ||||||
|
|
|
| |||||
|
| UKM Tenun Ikat Tula Tuen merupakan salah satu UKM di Desa Tuakonen, Kecamatan Watodulang yang bergerak di bidang tenun ikat.
Usaha ini berdiri pada Tahun 1996 dengan jumlah anggota 10 orang pada awal berdirinya. Dengan melihat prospek dan tingkat kebutuhan serta tingginya minat pasar maka kami merencanakan untuk menjadikan usaha tenun ikat ini sebagai usaha utama kelompok ini dengan cara mengembangkan jangkauan pemasaran hasil produksi.
Namun sayangnya perkembangan usaha ini tidak didukung dengan ketersediaan dana untuk menambah beberapa alat produksi dan modal untuk mendatangkan benang. Maka dari itu, dengan berkaca dari kekurangan kami dan mengumpulkan segenap keberanian kami, datang ke hadapan bapak dengan mengajukan proposal permohonan bantuan dana sebagaimana terlampir dalam lampiran permohonan ini.
Demikian permohonan ini kami buat dengan penuh tanggung jawab dan atas perhatian serta bantuan bapak, kami haturkan limpah terima kasih. | ||||||
|
|
|
| |||||
|
|
|
| |||||
|
| Mengetahui, Kepala Desa Tuakonen
ENRIQUE AQUILERA
|
Ketua Kelompok,
RENAFIQLY KIDI | |||||
3. Kata Pengantar
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatnya kami bisa menyelesaikan penyusunan proposal permohonan bantuan dana ini dengan baik. Proposal ini kami ajukan untuk menjadi bahan pertimbangan berbagai pihak dan menjadi dasar memberikan bantuan dana. Adapun dalam proposal ini kami memuat tentang bagaimana kedudukan UKM Tula Tueng dan masalah serta tujuan yang kami anggap penting untuk dimuat.
Seperti yang kami gambarkan dalam pra anggapan bahwa permohonan bantuan dana untuk penambahan modal ini dapat menekan turunnya biaya produksi disamping isu kenaikan minyak dunia yang sangat berpengaruh terhadap kenaikan harga bahan baku. Juga agar segalah operasional dan pengadaan bahan baku dapat terpenuhi di tengah keterbatasan swadaya para anggota. Karena itu sangat dibutuhkan bantuan dari berbagai pihak demi terwujudnya produksi yang maksimal.
Kami menyadari proposal ini masih jauh dari kesempurnaan maka kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi penyempurnaan proposal ini.
Tuakonen, 01 September 2022
Ketua Kelompok
PROPOSAL
PERMOHONAN BANTUAN PENAMBAHAN MODAL USAHA
KELOMPOK TENUN IKAT TULA TUEN
DESA TUAKONEN KECAMATAN WATODULANG
A. PENDAHULUAN
UKM tenun ikat Tula Tuen merupakan salah satu UKM yang berada di Desa Tuakonen Kecamatan Watodulang yang bergerak di bidang usaha tenun ikat yang selama ini memberkan kontribusi pendapatan bagi anggota kelompok secara khusus dan menyediakan hasil tenun ikat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan lokal masyarakat Watodulang secara umum.
Program nasional untuk mencintai produk dalam negeri dalam hal ini termasuk produk lokal masyarakat adat berupa tenun ikat menjadi target topik yang menggema hingga ke pelosok dan pedalaman. Hal ini ditandai dengan tinggi permintaan tenun ikat. Sehingga memacu setiap anggota kelompok untuk meninggalkan hasil produksi tenun ikat dari hari ke hari.
Peningkatan permintaan yang berdampak pada meningkatnya pemasaran hasil produksi disertai dengan ketersediaan bahan baku tenun ikat. Keterbatasan bahan baku dan dana membuat harga hasil produksi melambung tinggi, sehingga hasil tenun tidak bisa dinikmati kalangan ekonomi bawah. Benang yang berkualitas dan memiliki daya saing di pasaran amat sangat susah untuk didapatkan di sekitar Kabupaten Wukaklein.
B. PRA ANGGAPAN
Dengan memperhatikan beberapa hal yang disampaikan di atas maka kami mohon bantuan penyertaan modal berupa dana untuk membelanjakan bahan baku agar bisa menjadi jalan keluar dalam menekan turunnya biaya produksi dan menciptakan harga pasar yang bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.
C. MASALAH
Adapun masalah yang dihadapi dalam menjalani usaha dan menjalankan kelompok tenun ikat antara lain:
1) Harga bahan produksi yang tinggi karena keterbatasan bahan baku yang tersedia di pasar-pasar rakyat dan dana yang kurang.
2) Kurang adanya tenaga pendamping yang berkompeten dibagian tenun ikat
3) Harga produksi tenun ikat di pasaran tinggi, membuat banyak hasil produksi sebatas menjadi pajangan.
4) Sumber daya manusia yang mengelola tenun ikat masih berdasarkan pola tradisional warisa turun temurun.
D. TUJUAN
Tujuan dari permohonan ini adalah:
1) Meningkatkan kualitas hasil mutu hasil produksi tenun ikat
2) Menekankan harga dan beban biaya produksi
3) Meningkatkan hasil produksi kelompok
4) Meningkatkan kesejateraan ekonomi anggota kelompok
E. SASARAN
Sasaran dari bantuan ini adalah Kelompok Tenun Ikat, sehingga dengan adanya bantua ini Kelompok kami mampu menjawab hambatan dan mengatasi persaingan produk Tenun Ikat di pasar tradisional maupun moderen.
F. PROFIL USAHA
| Nama Kelompok | : | Kelompok Usaha Tenun Ikat Tula Tuen |
| Ketua Kelompok | : | Renafiqly Kidi |
| Jumlah Anggota | : | 10 Orang |
| Alamat | : | Desa Tuakonen, Kec. Watodulang Kab. Wukaklein |
| Tahun Berdiri | : | 1996 |
| Nomor Kontak | : |
|
| Jenis Usaha | : | Tenun Ikat Berupa: Sarung Pria dan Wanita, Selendang |
G. PENUTUP
Demikian permohonan ini kami sampaikan, harapan kami Bapak dapat membantu kami dan memberikan perhatian dan bimbingan atas segalah kekurangan kami ini. Atas bantuan Bapak, Kami haturkan limpah terima kasih.
|
| Tuakonen, 01 September 2022 |
|
| Ketua Kelomppok Tenun Ikat Tula Tueng
RENAFIQLY KIDI |
5. Daftar Nama Kelompok Usaha
DAFTAR NAMA ANGGOTA KELOMPOK
KELOMPOK TENUN IKAT TULA TUEN PEKKA SORONG SARE
DESA TUAKONEN
KECAMATAN WATODULANG
KABUPATEN WUKAKLEIN
|
| NAMA ANGGOTA | JABATAN |
| 1 | RENAFIQLY KIDI | KETUA |
| 2 | Serelia | SEKRETARIS |
| 3 | Martilde | BENDAHARA |
| 4 | Susana |
|
| 5 | Haris |
|
| 6 | Pokunjia |
|
| 7 | Panji |
|
| 8 | Kontrews |
|
| 9 | Gorius |
|
| 10 | Sorqon |
|
| Mengetahui, Kepala Desa Tuakonen
ENRIQUE AQUILERA |
Ketua Kelompok,
RENAFIQLY KIDI |
6. Struktur Organisasi
STRUKTUR ORGANISASI TENUN IKAT TULA TUEN
| Mengetahui, Kepala Desa Tuakonen
ENRIQUE AQUILERA |
Ketua Kelompok,
RENAFIQLY KIDI |











GAGBOX is your one source to humor and fun